Sri Lanka memulai diskusi dengan China tentang pembiayaan kembali utangnya atau renegosiasi. TempoDunia
TEMPO.CO, Jakarta - Sri Lanka telah memulai diskusi dengan China tentang pembiayaan kembali utangnya atau renegosiasi. Kolombo sedang berjuang mengatasi krisis keuangan terburuk dalam beberapa dasawarsa terakhir.Menurut Menteri Media Sri Lanka, Nalaka Godahewa, China telah menyarankan agar Kolombo membiayai kembali utang tersebut. 'Sekarang karena IMF bersedia untuk terlibat dengan Sri Lanka, negara-negara lain sadar bahwa kami memiliki dukungan.
Menteri Keuangan Sri Lanka Ali Sabry berada di Washington pekan lalu untuk berbicara dengan IMF, Bank Dunia, India, dan lainnya. Pembicaraan berkisar tentang bantuan pembiayaan untuk negara kepulauan itu, yang telah menangguhkan pembayaran sebagian dari utang luar negerinya sebesar US$ 51 miliar.Ekonomi Sri Lanka terpukul keras akibat pandemi dan pemotongan pajak oleh pemerintah populis. Cadangan mata uang asing melorot, kekurangan bahan bakar, makanan dan obat-obatan.