Peristiwa Rengasdengklok dikenal karena penculikan Sukarno-Hatta oleh golongan muda dengan tujuan untuk segera melaksanakan proklamasi.
Liputan6.com, Jakarta - Peristiwa Rengasdengklok terjadi pada 16 Agustus 1945. Peristiwa ini dikenal karena penculikan Sukarno-Hatta oleh golongan muda dengan tujuan untuk segera melaksanakan proklamasi.
Media sosial dihebohkan dengan dijualnya surat nikah dan cerai milik Ir Sukarno dan Inggit Garnasih. Namun kini unggahan tersebut telah dihapus dari akun yang sebelumnya mengunggah di Instagram. "Salah satu pemuda, yaitu Johar Noor, kemudian mengusulkan untuk menculik Sukarno-Hatta. Pemuda yang lain setuju. Kemudian dipilih Rengasdengklok yang menjadi salah satu markas PET," kata sejarawan Rusdhi Hoesein, dilansir Antara.
"Dengan gaya jagoannya, dia mencabut pisaunya dengan mata terbelalak berseru, 'Berpakaianlah Bung.., sudah tiba waktunya. Aku mengenal salah satu di antara mereka, di antaranya Sukarni,'" ucap Fatmawati. Dalam gambarannya tempat tersebut seperti pos penjagaan. Diketahui lokasi tersebut berada di Jatinegara.
Sukarno-Hatta tiba di Rengasdengklok sekitar pukul 07.00 disambut oleh seluruh anggota PETA. Dibawa ke rumah milik seorang pemimpin PETA Djiaw Kie Siong, Rengasdengklok agar mudah mendeteksi pergerakan tentara Jepang jika menuju tempat itu.
South Africa Latest News, South Africa Headlines
Similar News:You can also read news stories similar to this one that we have collected from other news sources.
Ketegangan Jelang Proklamasi dan Penculikan Sukarno-Hatta |Republika OnlineTentara Jepang siaga jelang proklamasi, Sukarno-Hatta diculik ke Rengasdengklok
Read more »
Mengenang Detik-detik Soekarno-Hatta Diculik ke RengasdengklokWikana menyampaikan desakan dari para pemuda yang menginginkan kemerdekaan saat itu juga. JAKARTA – Dua bom atom yang meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki...
Read more »
Mengenal Pahlawan Nasional dari Jawa Timur, dari Bung Karno hingga HOS TjokroaminotoJawa Timur khususnya Surabaya menjadi tempat berkumpulnya beberapa tokoh pergerakan nasional, seperti HOS Tjokroaminoto hingga Sukarno.
Read more »