NENEK itu memegang sebuah lingkaran besi dengan diameter sekitar sepuluh sentimeter. Dengan besi itu, tangannya menggaruk berulang kali tepung pati dalam sebuah wadah.
Per hari ia mendapat keuntungan bersih Rp 50 ribu. Untuk penjualan, ia tidak menarget pasti. “Meski begitu, pernah dalam sehari ia mendapat pesanan 150 bundaran ember. “Pesanan paling tinggi biasanya bulan Syawal,” jelas Aminah.
Sebelumnya, ia kerap direndahkan orang lain. Karena bekerja sebagai kuli pengantar tepung pati. Meski begitu, saat ini mampu mempekerjakan tetangganya. Termasuk yang berusia lanjut. Karyawannya ada lima. Di samping nenek itu, ada Aminah, pemilik pabrik kecil horok-horog. Sembari duduk dan membersihkan ember, dengan ramah Aminah menjawab deretan pertanyaan dari wartawan. Aminah adalah warga Desa Menganti, Kedung. Ia lahir di Jepara, 60 tahun yang lalu. Orang tuanya lupa kapan ia lahir, sehingga di dokumen tertulis lahir 1939.kadang sengaja dinaikkan tahunnya, biar bisa diambil orang,” imbuhnya sambil terkekeh. Terlihat deretan gigi berbaris rapi dari senyumannya.