Saat di tempat lain biasanya membunyikan sirine, toa, kentongan, dan lain-lain sebagai tanda bahaya saat terjadi erupsi Gunung Merapi, warga Stabelan tak melakukannya.
Mitigasi Kearifan Lokal
Ia mengatakan, setiap akan terjadi erupsi Gunung Merapi, akan ada orang-orang yang secara acak yang diberi wangsit. “Contoh terjadi tahun 1954, waktu letusan mengenai Pencar [Dusun Pencar, Desa Klakah, Selo, Boyolali], ada orang disabilitas intelektual bilang ke warga itu[Paman, minggirlah. Simbah buyut akan lewat]. Nah, ternyata dilewati lahar merapi. Artinya begini, mbah buyut itu datang lewat seseorang yang dipercaya. Orang itu acak, bisa orang yang dituakan bisa orang yang disabilitas intelektual,” ungkap lelaki yang akrab disapa Yoyok.
“Kami memberi gladi erupsi Gunung Merapi di Kawasan Rawan Bencana III Boyolali. Jadi mereka sudah kami latih sejak 2011. Kalau Stabelan mengungsinya ke Mertoyudan, Magelang. Itu namanyatersebut sebenarnya juga hanya mengikuti spontanitas warga Stabelan yang mengungsi ke Mertoyudan saat bencana erupsi Gunung Merapi pada 2010.2010 itu warga lari ke sana. Dulu Pemerintah Kabupaten [Pemkab] Boyolali manut saja. Mereka maunya di sana, ya kami carikan kerja sama antara Pemkab Magelang dan Boyolali.