Seiring pulihnya perekonomian Indonesia, jumlah sarjana yang terserap pasar tenaga kerja mulai meningkat. Meski pengangguran terdidik berkurang, rata-rata upah yang diterima pekerja berpendidikan tinggi menurun. Riset KompasData AdadiKompas
Di awal pandemi, jumlah sarjana yang menganggur meningkat. Seiring dengan pulihnya perekonomian Indonesia, jumlah sarjana yang terserap pasar tenaga kerja juga mulai meningkat.
Per Agustus 2022, angka pengangguran menjadi 7,07 persen atau bertambah 2,89 juta orang yang menganggur menjadi 9,77 juta orang. Tingkat pengangguran ini merupakan yang tertinggi selama satu dekade terakhir. Pada semester berikutnya , jumlah sarjana yang menganggur kembali bertambah menjadi 999.543 orang. Sementara jumlah lulusan diploma yang menganggur berkurang menjadi 254.457 orang. Secara keseluruhan, porsi pengangguran kaum terdidik kembali meningkat menjadi 14,3 persen.
Selanjutnya, pengangguran didominasi oleh kalangan yang berpendidikan tamat SMP dan tamat SD . Dibandingkan masa sebelum pandemi, porsi yang menganggur di kedua kelompok ini meningkat cukup besar. Dalam porsi yang lebih kecil, pengangguran di kalangan terdidik, yang mengenyam bangku kuliah, menurun setelah tahun kedua pandemi. Porsinya berkurang dari 13,56 persen menjadi 11,7 persen. Hal ini sinyal kuat untuk perbaikan kesejahteraan karena biasanya kelompok terdidik ini mencari dan mendapatkan pekerjaan yang layak dengan tingkat upah lebih tinggi.
Pekerja dengan pendidikan SD ke bawah menerima tingkat upah terendah, yakni Rp 1,65 juta per bulan, tidak ada perubahan dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara rata-rata upah pada pekerja dengan pendidikan SMA/SMK berkisar antara Rp 2,62 juta hingga Rp 2,69 juta per bulan.