Selain kurangnya sumber daya manusia (SDM) dari sisi kuantitas, kurangnya pelamar kerja yang berkualitas dianggap menghambat pertumbuhan perusahaan di Indonesia. Sehingga menjadi tantangan dalam transformasi digital di Indonesia.
Ada kesenjangan antara jumlah lowongan yang terbuka dan jumlah lulusan. Setidaknya ada 600.000 lowongan tenaga kerja setiap tahun, sedangkan jumlah lulusan universitas hanya 50.000 per tahun, seperti dikatakan Roman Kumay Vyas, CEO & Founder Refocus Education Project dikutip dari siaran pers Refocus.
“Perusahaan akan mencari kandidat dengan keahlian di bidang teknologi, digital, dan e-commerce. Tenaga kerja dengan keterampilan membuat kecerdasan buatan , otomatisasi, pengalaman menangani pelanggan dan pengembangan produk akan sangat dibutuhkan ke depannya,” katanya. “Jadi, untuk setiap CV ada 12 lowongan yang dibuka sehingga menghasilkan perbedaan yang drastis,” katanya.
“Perusahaan akan mencari kandidat dengan keahlian di bidang teknologi, digital, dan e-commerce. Tenaga kerja dengan keterampilan membuat kecerdasan buatan , otomatisasi, pengalaman menangani pelanggan dan pengembangan produk akan sangat dibutuhkan ke depannya,” katanya. “Jadi, untuk setiap CV ada 12 lowongan yang dibuka sehingga menghasilkan perbedaan yang drastis,” katanya.